Thursday, October 2, 2014

Choice

Bagaimana perasaan kalian ketika sebuah mimpi yang kalian ingin capai menjadi sia-sia?

Satu mimpi yang aku mimpikan selama satu tahun untuk satu tahun yang lebih baik pupus hanya karena satu kejadian. Mungkin aku kurang beruntung, atau Allah sedang mengujiku atas kesabaranku. Tak ada yang bisa kujadikan sandaran, satu tahun lebih baik yang asalnya 'something' menjadi 'nothing', satu-satunya yang aku lakukan hingga saat ini hanya menyimpan semuanya dalam hati. Sesekali aku mengungkapkan secuil uneg-uneg yang aku rasakan. Tapi setelah menerima respon yang kurang baik, aku memilih diam.

Semuanya dimulai ketika waktu itu kami semua berencana liburan ke sebuah villa. Acara kelas 'katanya'. Banyak tempat yang menjadi pilihan kami untuk menghabiskan waktu bersama. Rasa gelisah sedikit muncul ketika beberapa dari mereka mengusulkan tempat agak sedikit jauh. Beda pulau malahan. Dari sana aku dengan tegas menolak. Bukan karena egoku, tapi aku memikirkan bagaimana pendapat orangtua siswa yang lain. Juga pendapat orangtuaku. Mereka pasti langsung menolak. Mereka bisa menjadi teman ketika aku bercerita atau hanya sekedar bencengkrama. Tapi ketika serius, kalian harus percaya kalau aku menganggap mereka sebagai orang paling tegas yang aku kenal. Dan yang menjadi alasan kenapa aku tak bisa membantah adalah mereka memiliki alasan yang jelas dan tak bisa dibalas hanya dengan opini.

Aku mengusulkan tempat yang agak dekat. Dalam hati aku mengatakan, tempat tidak penting. Aku hanya ingin berlibur bersama mereka. Aku kurang ingat bagaimana hasil rapat kelas setahun yang lalu itu. Tapi dari hasil diskusi selama berhari-hari, mereka memutuskan untuk menginap di sebuah villa milik kenalan ayah temanku yang tidak aku tahu pasti dimana letaknya. Aku bertanya apakah ada minimal satu orang dewasa yang ikut di acara kita. Mereka bilang tidak. Wali kelas kami tidak bisa hadir karena harus mengurus raport kenaikan kelas. Harapanku untuk berlibur mulai sedikit hilang. Aku bertanya lagi apa tak ada minimal satu orangtua siswa yang ikut. Mereka tidak mengiyakan dan menjawab tidak. Lalu kudengar mereka berkata,"Kalau ada orang dewasa jadi kayak bukan acara buat anak-anak."

Ada benarnya, tapi bukan itu masalah yang sebenarnya.

Tanggung jawab itu penting. Sangat. Itulah yang aku pelajari setelah orangtuaku tidak mengizinkanku liburan bersama teman tanpa orang dewasa. Aku sadar aku masih tanggung jawab mereka. Beda dengan laki-laki yang ketika sudah baligh sudah bertanggung jawab atas diri sendiri.

Hal yang membuatku kecewa adalah ketika aku mengatakan mereka kalau aku tidak mendapatkan izin orangtua. Aku tidak begitu ingat apa mereka menanyakan alasannya. Karena hal yang membuatku merasa tertohok adalah ketika mereka bahkan tidak melakukan apapun. Hanya membujuk dan mengatakan, "Ayo dong, kapan lagi bisa main kayak gini.." yang menurutku tidak bisa mengubah keputusan orangtuaku sama sekali. Kasarnya, apa yang mereka lakukan saat itu tidak membantu keadaanku yang sedang down.

Malam itu aku ingat ibuku masuk ke kamarku. Kami berbicara empat mata. Beliau mengatakan kepadaku alasan kenapa ayah dan ibuku tidak mengizinkanku berlibur. Beliau bilang kalau tanggung jawab itu penting. Aku tidak diizinkan bukan karena mereka tidak percaya aku bisa menjaga diri. Tapi karena aku adalah tanggung jawab mereka dan apapun yang terjadi padaku semuanya tanggung jawab mereka. Kupikir inilah alasan kenapa Allah memberikan keistimewaan kepada orangtua yang dapat mendidik putrinya dengan baik. Seorang putri yang cerdas, yang menjaga dirinya dan kehormatannya. Setelah mendengar kata 'menjaga diri' dari mulut ibuku, aku sadar kalau aku tidak begitu peduli dengan menjaga diri. Ya, aku sadar itu pada akhirnya. Hanya remaja laki-laki dan remaja perempuan berlibur ke sebuah villa tanpa pengawasan orang dewasa. Aku tidak yakin apa itu bisa dikategorikan sebagai menjaga diri.

"Bukannya ummi gak percaya sama teman-teman kakak, ummi tahu kakak pasti berteman sama orang yang baik-baik. Tetapi yang namanya setan itu akan terus menggoda manusia di setiap kesempatan."

Kata-kata itu masih kuingat. Raut wajah ibuku masih tergambar jelas kalau beliau tampak khawatir dengan lingkunganku yang semakin lama semakin heterogen.

"Perempuan itu, kalau bukan tanggung jawab orangtua pasti tanggung jawab suaminya. Selama kakak belum menikah, kakak masih tanggung jawab ummi sama abah."

Kalimat pertama bukanlah kalimat yang baru pertama kalinya aku dengar. Aku pernah membacanya di sebuah buku. Setelah aku membaca buku itu aku ingat kalau aku memantapkan diriku menjadi Fatimah Az-Zahra abad 21. Yang senantiasa menurut pada orangtua dan suaminya. Seorang wanita yang sangat terhormat. Kata-kata ibuku berhasil mencairkan dinding es yang membekukan hatiku karena kesal tidak diberi izin. Aku menghela napasku ketika ibuku menyudahi pembicaraan kami dan pergi keluar kamar. Beliau benar. Aku sudah tahu ilmunya, lalu kenapa aku tidak menerapkannya barang sekalipun? Aku kecewa dengan diriku sendiri saat itu. Memilih egonya sendiri daripada ketetapan Allah. Dan aku tahu, ini semua bukan akhir. Ini adalah awal.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya mereka pergi tanpaku. Waktu itu mereka pernah jalan-jalan ke tangkuban perahu. Tapi karena saat itu aku sedang mengikuti perlombaan di sekolah lain aku tidak merasa terbebani. Tapi baru kali ini aku merasa tidak enak. Acara berlibur yang asalnya acara kelas itu membuat tembok pembatas yang kokoh. Ini sedikit lucu bagiku karena hanya karena acara sepele itu aku jadi bukan bagian dari kelompok mereka. Sakit hati? Jelas. Mereka sama sekali tidak menyesal atas ketidakhadiran orang-orang yang ikut. Mereka menyukainya. Mungkin tampang bete yang kuberikan sama sekali tidak menggoyahkan hati mereka. Setelah liburan kenaikan kelas dan aku merindukan mereka, saat masuk sekolah mereka bahkan sama sekali tidak bertanya atau pun menunjukan kalau mereka rindu. Mereka asyik bercerita di depanku tentang pengalaman mereka. Sungguh, aku benar-benar tidak tertarik.

Yang membuatku kesal adalah karena mereka menjilat ludah mereka sendiri. Pernah sebelumnya pihak perempuan di kelas kami kesal dengan anak laki-laki karena ketidakkompakan kelas kami.

"IPA 2 itu 25, bukan sebagian." ujarku di Line. Dan sepertinya ucapanku saat ubun-ubunku terasa mendidih hanya sekedar kalimat bagi mereka. Mereka menuntut kekompakan, tapi mereka sendiri yang membangun tembok besar. Dan kini aku tahu, mereka bukan menuntut kekompakan, mereka hanya ingin bisa bermaim dengan anak laki-laki. Tak ada rasa penyesalan sama sekali.

"Dasar centil."

Itu yang pertama kali kuucapkan saat aku sadar. Yang kukira mereka berbeda dengan perempuan lain yang sikapnya kecentilan ternyata sama saja.

Aku mencoba tidak peduli dengan rencana mereka ke Mahameru atau tempat manapun. Dimana tidak ada orang dewasa, aku dipastikan tidak akan ikut. Lagipula kalau ikut pun aku tidak yakin bisa menikmati liburan itu dengan tenang sementara aku masih memikirkan bagaimana sedihnya orangtuaku.

Kata mereka sih jalan-jalan dengan keluarga itu merepotkan. Coba saja kalau main ke dufan. Ada adek bayi yang harus dilayanin 24 jam. Ada orang tua yang kecapean. Beruntungnya keluargaku tidak semerepotkan itu. Malah waktu itu kami sekeluarga main arung jeram. Ayahku waktu itu mengajak kami menaiki wahana tornado dimana aku langsung membalasnya dengan gelengan cepat.

Yah... pada akhirnya sih ketika dihadapkan dengan masalah seperti itu kita dapat dua pilihan :

1. Have fun, sementara kita lupa sama Allah

2. Sakit hati, tapi bisa menjadi penghapus dosa kita

Yang mana pilihanmu?

No comments:

Post a Comment